Intip Pengolahan Sawit, dari Minyak Goreng Sampai Listrik

Intip Pengolahan Sawit, dari Minyak Goreng Sampai Listrik

Sawit dapat hasilkan banyak produk bawaan.

Truk-truk hilir mudik membawa sawit ke pabrik pengolahan sawit Kencana Agri Limited, di Desa Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Sawit-sawit itu seketika ditumpahkan dari sebagian truk ke salah satu sudut pabrik hal yang demikian.

Baca juga: Cara Cerdas promosikan bisnis anda dengan Booth Poly Counter
Tumpukan sawit itu bahkan menggunung. Di antara sawit hal yang demikian seketika dimasukkan dalam boiler. Tidak lama berjeda, troli membawa sawit dari boiler menuju daerah pemilahan. Asap putih terlihat mengepul saat sawit dituang. Mesin seketika menggerakkan sawit-sawit itu ke daerah pemilahan. Di sana, sawit dipisahkan antara buah dan janjangannya.
VIVA.co.id dan sejumlah media serta regu BPDP Sawit berkesempatan menyaksikan pengolahan sawit di pabrik itu, Kamis, 27 April 2017. Bau seperti kelapa disangrai merebak di sekitar lokasi boiler dan pemilahan itu.
Sesudah pemisahan, buah kelapa sawit akan dipres menjadi Crude Palm Oil (CPO), kernel atau inti buah sawit, dan fiber.

Kernel seketika diolah menjadi Crude Palm Kernel Oil (CPKO) dan Cake (ampas atau bungkil inti sawit).
Berdasarkan Direktur Keuangan Kencana Agri Limited Kent Surya, CPO hal yang demikian ialah bahan untuk pembuatan minyak goreng.
“Dari CPO itu perlu dua kali pengerjaan lagi untuk menjadi minyak goreng,” ujarnya.
Adapun CPKO ialah bahan untuk produk-produk bawaan sawit, seperti kosmetika. Sementara itu, Cake dapat diaplikasikan untuk pakan ternak.
Progres pengolahan sawit tidak stop di sana. Limbah sawit seperti cangkang kernel, fiber dan janjangan sawit bisa diaplikasikan untuk bahan bakar pembangkit listrik.
Untuk itu, berdasarkan Kepala Unit Pembangkit Listrik PT Listrindo Kencana, Agus Sularmo, janjangan sawit dipres lebih dahulu untuk mengurangi kadar air di dalamnya yang semula sekitar 60 persen menjadi sekitar 40 persen. Sesudah itu, janjangan dicincang.
Lalu digabungkan dengan fiber dan cangkang untuk menjadi bahan bakar pembangkit listrik. Agus menerangkan, ketiga bahan itu seketika diolah dalam boiler dengan temperatur 900 derajat selsius.
Uap Panas
Dari pengolahan itu menjadikan uap panas. Uap panas lalu menggerakkan turbin seketika turbin menggerakkan generator sampai menjadikan listrik. Dikala ini, listrik yang dapat diciptakan dari pembangkit listrik di pabrik hal yang demikian adalah 4 Megawatt per jam.
Sebanyak 2,4 sampai 3,5 Megawatt disuplai ke PLN, sisanya diaplikasikan sendiri. Pihaknya mengenakan biaya sekitar Rp1.300 per 1 Kwh ke PLN.
“Untuk menjadikan 4 Megawatt per jam itu diperlukan 2,2 ton cangkang, fiber dan janjangan,” ujarnya.
Agus tidak menampik sampah juga dapat diolah untuk bahan bakar listrik. Tetapi, berdasarkan Agus, limbah sawit ini mempunyai keunggulan dari segi kalorinya. Cangkang, fiber dan janjangan disebut mempunyai kalori lebih tinggi.
Fiber mempunyai kalori 2.200 kilo kalori per kilogram, janjangan mempunyai 1.800 kilo kalori per kilogram dan cangkang memiliki 3.100 kilo kalori per kilogram.
“Makin tinggi kalorinya, pemakaian bahan bakar makin efisien,” katanya. (ren)